my playlist (!)

Jumat, 17 September 2010

Meidian Tarania. Part 5A --THANKS FOR YOUR SUPPORTS,GUYS--

Aku memungut sebuah cangkir dari lemari atas di dapur. Malam ini sangat sepi dirumah. Keluarga Kak Echa dan keluarga calon suaminya bertemu, aku tidak bisa ikut. Baru setengah jam yang lalu aku pulang dari sekolah, ada perkumpulan mading, dan aku mengikuti itu karena harus menghargai mereka yang mau menerimaku sebagai anggota mading baru.
Aku membuka sebuah bungkusan yang berisi bubuk yang mengandung cafein, menaruhnya dalam cangkir, memberinya sedikit gula dan mencampurnya dengan air hangat.
Lelah juga. Aku duduk di sofa besar yang terletak di ruang keluarga Om Arman. Di rumah bertingkat 3 dan sebesar ini, sangat sepi, membuatku sedikit mengingat tentang kesedihanku. Ah, tidak, aku sudah berjuang untuk melupakan masa laluku, hingga sejauh ini.
Suara ketukan pintu ruang tamu menyadarkanku.
Membangunkanku untuk tidak terlena dari kesedihanku lagi. Aku membukanya.
"Lho, Alvian belum pulang?"
Ternyata Ardi yang mengetuk. Aku mengikutinya yang terus berjalan masuk ke dalam rumah. Seperti rumahnya saja. Ia mengambil minuman di kulkas, kemudian meneguknya, dan dalam sekejap minuman kaleng itu habis seketika.
"Ada perlu sama Alvian,Di?" tanyaku.
"Iya sih sebenernya. Tapi 45 menit yang lalu gue telfon dia, dia bilang masih ngerjain tugas kampus sama temennya. Gue kirain bohong, hehe. Soalnya gue ngajak dia renang, siapa tau malem-malem gini dia nggak mau renang," jelas Ardi.
"Tumben lo pengen renang?" heranku.
"Pengen aja, abisnya masa' kalo gue tenggelam malah cewek yang sih yang nyelametin gue, kayak lo kemaren, ngga malu apa gue,haha,"
Aku hanya menganggukkan kepala. Sedikit mengherankan Ardi ingin berenang di malam hari seperti ini. Sepertinya ada yang salah? Apa mungkin hanya perasaanku saja, toh kalau jika dia cuma malu
memangnya mengapa? Kan itu alasan yang bagus kan?
"Sini gue temenin lo, gue temenin di samping kolam aja, jaga-jaga kalo elo tenggelam lagi," ajakku.
"Yakin lo?rumah gue sepi lho," jawab Ardi. Semakin membingungkan aku.
"Hah? Apa hubungannya sama rumah lo sepi?"
"Yah..hmm...siapa tau daripada berenang kek..mending ngapaaaaain gitu,"
Aku mengangkat alis kananku, berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh Ardi. Dan setelah kupikir-pikir, kemudian aku membelalakkan mata.
"ARDIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

******************************************************************************************

"Oh, jadi si Reisya itu ninggalin lo gara-gara cowok lain?" tanyaku.
Aku menemani Ardi yang sedang asyik berada di kolam renang. Meskipun gaya berenangnya masih jauh dibawah standar. Ardi juga bercerita tentang siapa itu Reisya. Tau kan? Tidak usah bertanya atau memikirkan topik pembicaraan jika sedang bersama Ardi, dia juga akan berkicau dengan sendirinya.
"Iya, cowok yang dia suka itu anak Bali. Begonya gue, dikadalin dia trus, disuruh ini lah, disuruh itu lah. Trus dia juga bilang waktu itu cuma mau liburan di Bali, eh ternyata, dia bakal selamanya disitu dan dia juga ngaku kalo dia udah bahagia disana karena adanya
cowok itu,"
Aku melihat mata Ardi, terlihat sedih menceritakan itu. Tetapi terlihat ia sangat kuat, ia sangat ingin melupakan semuanya. Bahkan, ia berusaha santai untuk menceritakan semuanya kepadaku.
"Bagi gue, apa yang gue suka, apa yang gue sayang atau apa yang gue cinta, gue bakal usahain buat pertahanin di sebelah gue, tapi kalo apa yang gue inginkan itu nggak mau buat ada sama gue, apa
yang gue sayang itu justru buat gue berkorban tapi menyakitkan, apa yang gue cinta justru nggak buat gue bahagia, buat apa gue terus pertahanin? Toh, gue yakin, akan ada pelangi yang lebih indah daripada sekarang, akan ada Reisya yang lebih baik daripada Reisya, akan ada masalah baru daripada masalah sekarang, akan ada kebahagiaan dari kebahagiaan yang kita alamin sebelumnya, hidup akan terus berjalan, selama Tuhan masih beri kita hidup, kita harus perjuangkan itu,"
Aku hanya menatap Ardi. Tatapannya kepadaku juga sangat dalam. Sedikit, aku bisa mengetahui maknanya bahwa ia juga ingin aku sepertinya. Aku juga ingin seperti Ardi, yang bisa menyemangati dirinya, yang bisa mendorong dirinya untuk tetap maju, yang bisa
memberi semangat orang lain, dan yang pasti bisa terus berjuang menjalani hidup. Karena pada dasarnya, hidup itu halus tetapi didalamnya ia tajam. Tajam untuk bertarung kepada manusia yang
lemah.
Ardi naik ke permukaan, ia mengambil handuk, meneguk sebotol aqua, kemudian duduk di sebelahku. Aku masih termenung. Menatap ke bawah. Lebih tepatnya menatap diriku. Dan bertanya, apa jadinya aku ketika aku akan terus memutuskan menjadi seperti ini?

"Akan ada api yang lebih panas daripada api yang panas yang sekarang kamu rasain,Tara"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar