my playlist (!)

Rabu, 06 Januari 2010

Meidian Tarania (part 2) --Dibalik Semua Itu----


Aku dan Alvian memakan bakso di sebuah gerobak sebelah kuliah Ardi . Ardi dan Alvian seangkatan, semester 3, tetapi mereka berbeda jurusan. Kebetulan hari ini Alvian tidak ada jadwal untuk kuliah, jadinya ia dapat menemaniku kemanapun ku inginkan.
            “hmmm, Al, dulu emang gue sedeket ini ya sama lo sama Ardi?” tanyaku. Yang aku butuhkan adalah ingatanku kembali dan aku dapat mengenal dan mengingat mereka berdua.
            “lebih deket dari ini, dan lo cerewet,” jawab Alvian, kemudian melanjutkan makanannya, aku masih menatapnya.
            ………….
            “baksonya enak kan sayang?”
            “iyalah, lebih enakan makanan gini daripada restoran haha,”
            “sayang, ada yang mau aku omongin?kalo aku pergi, apa kamu bakal inget aku selamanya?”
            “kamu ngomong apa sih, kamu nggak bakal kemana-mana, Rak,”
            ………….
            “Tar? Lo mau nambah lagi?” tanya Alvian.
            Aku selalu mengingat kenangan-kenangan itu, kenapa aku tidak bisa mengingat masa kecilku dengan mudah, tetapi jika mengingat kenangan bersama Raka, selalu mudah.
            “Tar? Lo kenapa?” tanya Alvian. Aku lupa membalas tawarannya, aku menggelengkan kepala, berusaha membuat diriku baik-baik saja. Kenapa dia terus hadir dalam pikiranku?
            Ardi datang menghampiri kami, ia langsung mengambil bakso dari mangkuk Alvian, Alvian pun hanya mendengus kesal. Kata mereka, bakso dekat kampus ini paling enak, memang, menurutku juga seperti itu.
            Ardi menanyakan sekolahku, menanyakan kemana saja aku hari ini bersama Alvian. Alvian lebih suka menjawab pertanyaannya, daripada aku. Aku masih berusaha menenangkan diriku, menahan air mataku, dan tidak membayangkan lamunan ataupun kenangan yang selalu ada dalam pikiranku. Semoga mereka berdua, tidak tahu apa yang baru saja aku alami. Sedetik saja, jika aku ingin mengingat Raka, aku akan dengan mudah mengingatnya.
            Raka, dia adalah mantanku, empat bulan yang lalu, Oktober, bulan dimana aku ulang tahun. Dua hari setelah ulang tahunku, papa meninggal, serangan jantung dan itu karena papa tidak menyetujuiku dengan Raka.
            Memang, Raka seharusnya sepantaran dengan Ardi dan Alvian, tetapi ia masih duduk di bangku SMA, dia perokok, suka balapan, tetapi dia bebas, aku merasa bebas dengannya. Tidak ada yang menghalangiku bersamanya, dan dia juga menjagaku dengan usahanya. Aku mencintainya. Sampai sekarang.
            Setelah kematian papa, dua minggunya Raka meninggal dunia, karena Raka mengalami kecelakaan saat balapan, malam itu, kami bertarung hebat, dan itu membuatku menyesal sampai aku tidak pernah percaya dia pergi, tetapi aku yakin dia selalu ada buat aku, disampingku, sekarang.
            Menceritakan kedua lelaki itu kepada semua orang, sangat sulit bagiku, aku tidak bisa menangis di hadapan mereka, menceritakan seperti kembali merasakan apa yang ku rasakan waktu kehilangan dulu .Bayangkan jika seorang yang selalu memenuhi hidupmu setiap hari, menghiasi warna-warna hidupmu kini telah pergi, bersamaan di tepat bulan ulang tahunmu? Itu adalah kado terburuk yang pernah ku temui.
           

..........................................................................................................................................................................

            Malam itu, hujan deras di rumah, aku terbaring di kamar, menatap kaca besar yang langsung menghadap ke taman depan rumahku. Raka membuka pintuku, tidak menyalakan pintu kamar yang sengaja aku padamkan, hanya sinar lampu jalanan yang menghias di kamar itu.
            Raka menyapaku, aku hanya terdiam, aku masih tak percaya, papa ku meninggal seperti itu. Keluarga kandung satu-satunya yang aku miliki. Hatiku miris, melihat pertengkaranku dengan Papa, membuat ia serangan jantung.
            Raka duduk di sampingku, rupanya ia sedang membawa makanan. Aku sampai tidak merasa lapar, bahkan aku harus makan saja aku lupa. Aku terlalu berusaha memahami, untuk apa aku hidup jika tidak ada sosok ayah lagi, yang setiap malam usai pulang kerja ke kamarku, mencium keningku, membawakanku sesuatu, atau mengajakku liburan.
            “sayang, makan dulu yuk, aku udah bawain makanan nih, kesukaan kamu,” ucap Raka. Aku tidak peduli, makanan yang akan ku makan, juga tidak akan membalikkan papa ke hidup ini lagi. Apalagi Raka sudah..
Ahh..Aku tidak peduli!
            “tar, kamu harus makan,”
            “males, taruh aja,” jawabku.
            “Tar, aku suapin yah,”
            Aku melempar piring itu, sehingga pecahannya berada di kamarku, Raka terkaget, emosiku membara, dia melihat mataku yang tajam, memunculkan hasrat amarah di dalamnya.
            “kamu kenapa sih? Kalo nggak mau makan yaudah, aku taruh, aku susah-susah bawain!” bentak Raka.
            “aku kenapa? HAHA, pinter banget kamu bohongin semua ke aku, kemarin malem kemana? Katanya balapan, malah ke café sama cewek? IYA?!”
            Raka terdiam, ia menatapku tajam, seolah-olah ingin memakanku karna aku sudah membentaknya. Aku tidak peduli, emosiku sulit aku atur.
            “kamu bingung kan? Aku tau darimana! Aku kecewa sama kamu, lo bilang lo bakal setia sama gue?! Apanya ?! cowok bejat lo!”
            “heh, lo tau? Sejak bokap lo itu meninggal, lo nggak pernah merhatiin gue. Gue butuh namanya orang yang perhatian sama gue! Tapi lo?! Lo nggak bisa terima kematian bokap lo itu, dan akhirnya lo diem diri di kamar, untung nyokap lo ngga bawa lo ke rumah sakit jiwa!”
            Aku semakin kesal kepadanya.
            “gue doain lo nggak akan selamet Rak!”
            Petir menggelegar di antara pertengkaran kamu, hujan semakin deras, aku kembali duduk, mengatur nafas dan Raka tetap berdiri di sebelahku. Aku menatap hujan, firasatku tidak enak, kenapa ini?
            Raka duduk di sebelahku, aku ingin menyuruhnya pergi, tetapi..
            “balapan gue diganti malem ini, kalo lo nggak percaya, lo bisa ikut gue, tapi kalo lo nggak mau, yaudah nggak papa. Cewek di café itu, Rena, dia sepupu gue, gue janjian ketemu sama dia di café, mungkin orang yang beritau lo itu, ngeliat waktu gue lagi mesranya sama Rena. Tar, gue sayang lo, sori tadi gue udah bentak lo, lo emang diem sekarang, gue butuh Tara yang dulu, bukan diem gini, gue trus belain ke sini, karna gue pengen lo berubah, lo bisa terima itu, dan gue juga ngerasa salah sama bokap lo karena semua ini, gue nggak pengen lo diem, Tar,”
            Aku terdiam, segala ucapan bentakan dia tadi, memang sangat membuatku marah, tapi aku juga merindukan dia, dan menyadari bahwa setiap hari dia datang hanya untuk menemuiku. Aku ingin memeluknya, tapi aku masih terlalu kesal, nanti saja, saat aku sudah kembali. Besok pagi aku akan menemuinya, dan dia melihat aku yang sudah kembali.
            “aku pergi dulu yah, doain menang, bye sayang, love you, makan ya,”
            Raka bangkit, jalan menuju pintu, dan menutupnya. Tutupan pintu itu disertai dengan petir yang menggelegar lagi, disaat itu aku mulai merasakan..
            Perasaan yang sama, saat papa di UGD..

                                                           

............................................................................................................................................................................

            Aku sudah membawa sebungkus pizza, dan dua milkshake. Pagi-pagi aku sudah menyetir menuju rumah Raka, dengan senyuman, dan dandanan yang cantik. Hari ini hari jadianku dengannya, untung saja bertepatan dengan janjiku, aku ingin berubah demi dia.
            Aku mengetuk pintu rumahnya, tidak ada jawaban dari balik pintu, mungkin dia sedang tidur. Aku mengeluarkan Handphone, mencari kontaknya, dan menelfonnya. Tidak ada jawaban. Aku mengintip garasi, melihat apakan mobilnya ada, ternyata tidak ada. Aku menuju luar pagar, menyebrang ke tetangga depan rumah Raka.
            “Pak, yang punya rumah depan, apa sudah pulang?”
            “tidak non, saya kemarin pulang jam 3, tapi biasanya mobilnya udah ada, tapi sekarang nggak ada,”
            Tanpa menanggapi jawaban itu, aku langsung melihat rumah Raka. Rumah bertingkat dua itu, hanya ditinggali oleh kekasihnya itu. Orang tua Raka tinggal di luar negeri, bersama adik Raka, yang dirawat disana karna koma.
            Aku memasuki pagar, masih berdiri disana, perasaanku, perasaan gundah, dimana Raka? Anak itu memang selalu membuatku mencari dirinya, karna dia juga suka aku kebingungan mencari.
            Sebuah ambulans dengan sirine yang belum dimatikan berhenti di depan rumah Raka. Serentak perasaanku langsung ketakutan. Jantungku berdetak tak karuan, nafasku saja sudah tak terkendali. Aku berjalan, dengan masih membawa makanan untuk Raka. Tetangga depan yang ku ajak bicara tadi pun ikut melihat ambulans itu. Dua petugas ambulans turun dan membuka pintu, aku sudah ada di depan pintunya, dan melihat ada jenazah.
            Seseorang lagi turun dari ambulans itu. Mataku terbelalak melihat bahwa orang itu adalah adik Raka, Raza. Dia terlihat sendu, dan kaget melihat aku sudah ada di depannya.
            Jenazah itu diturunkan, Raza menghampiriku, dia terlihat sangat sedih, kepalaku penuh dengan pertanyaan, yang jawabannya sudah sangat aku dapatkan.
            Tetangga itu membuka kain jenazah, aku masih membelalakkan mata, melihat siapa yang tergeletak, melihat siapa yang menutup mata, tangisanku pun menetes, ini pertama kalinya aku menangis, padahal saat papa meninggal aku tidak pernah menangis.
            Raka
            Itu jenazahnya, aku tidak bisa berkata, badanku lemas, Raza menuntunku, agar aku tetap bangkit. Air mataku menetes, makanan yang kubawa jatuh di tanah, aku tak kuasa menahan semua ini. 

..............................................................................................................................................................................



PIARRR !
            Lamunanku terbuyarkan dengan gelas yang pecah. Aku saja tidak tahu mengapa ia pecah, aku tidak sadar gelas itu pecah karenaku. Aku memungutnya, Alvian membantuku.
            “aw,” aku mengeluh, pecahan itu mengenai jari telunjukku.
            “udah sini gue aja, Di, ambilin obat gih,” ucap Alvian. Aku pun bangkit, aku masih tidak mengerti kenapa aku melamun lagi, ada kak Echa bersama pasangannya, ada mama , om dan tante, juga Alvado.
            Ardi mengobatiku lukaku, darah yang bercucuran masih mengalir dari telunjukku, aku mengernyit kesakitan. Seluruh keluargaku masih melihatku, kemudian mereka kembali melanjutkan pembicaraan makan malam dan pesta pernikahan kak Echa.
            Aku mengizinkan diri untuk ke kamar, dan ternyata Ardi dan Alvian mengikutiku. Hal ini sudah biasa, mereka berdua masuk ke kamarku, tanpa ada larangan ataupun izin.
            “lo ngelamun lagi ya?” tanya Ardi.
            Aku menganggukkan kepala, menyadari mereka merasa sedih lagi melihatku. Aku tahu semua orang sedih karenaku, karena kediaman yang aku lakukan, dan hobi lamun yang sering ku perbuat di depan mereka.
            “Tar, apa lamunan lo ada hubungannya sama Raka?” tanya Ardi, dia datang ke arahku, tepat di depan mataku, Alvian melihatnya, ia seperti kesal Ardi menanyakan hal itu, tapi ia merasa senang jika Ardi memberanikan bertanya, karna itu lebih baik.
            Aku menatap mereka, apa aku harus cerita?
            “jangan paksa gue cerita,” jawabku tegas.
            Ardi bangkit dari duduknya, dia menatap Alvian, menangkap kode dari Alvian yang menggelengkan kepala, sudahlah jangan bertanya, mungkin itu kode yang lebih tepat.
            “yaudah, besok kita jalan-jalan lagi deh, lusanya kan lo sekolah, jadi nggak ada waktu luang lagi, gimana, mau kan Tar?” usul Alvian.
            Aku hanya mengangguk saja, dan Ardi juga tersenyum. Ardi menatapku, tatapan itu seperti tatapan Raka. Iya! Seperti tatapan Raka, bukan tatapan Alvian yang memandangiku saat dia tertawa. Tatapan heran, tidak rela, tetapi sayang, itu yang kurasakan jika menatap Raka saat aku pura-pura senang di hadapannya.
           
           
           

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar